| Article Index |
|---|
| Sejarah |
| ABAD XV - XX |
| SEBUAH PERSINGGAHAN |
| SELARAS IDENTITAS |
| LANGKAH PERTAMA |
| All Pages |
Page 1 of 5
&
Pada mulanya adalah mimpi. Mimpi yang penuh warna dan indah.
ABAD XII - XIV
Masa ini Gereja hidup dalam udara keresahan dan anyir darah: Perang Salib dan skisma. Gereja nyaris ambruk, terkoyak. Banyak biara (yang saat itu adalah pilar utama Gereja) tertular keresahan zaman.

Untungnya, tetesan segar tidak mengering. Hembusan akan pembaharuan Gereja mulai menyebar di mana-mana. Hembusan ini meneriakkan sebuah gerakan observansi - penghayatan radikal akan kepapaan - yang didalamnya termaktub juga doa yang serius, serta mati raga. Salah seorang putra bangsawan dan ksatria perang salib yang mampu membaca tanda-tanda jaman itu adalah Theodorus de Celles. Tapi ia tidak mampu sendirian. Dengan mengajak beberapa rekan, ia mencoba untuk mengaktualkan kehidupan biarawan yang sejati, yang terpesonakan oleh vita apostolica, hidup bersama-sehati sejiwa ala Gereja perdana.
![]() |
![]() |
![]() |
Sebuah tempat yang terpilih untuk mewujudkan semua mimpi itu adalah Clair-lieu, "tempat terang", dekat kota Huy, Belgia Selatan. Semua itu terekam pada awal abad ke 13, tahun 1211.
Beberapa tahun kemudian mereka memberanikan diri menghadap Paus Innocencius IV untuk meminta restu. Restu diberikan dengan bulla pengesahan Religiosum Vitam Eligentibus tertanggal 23 0ktober 1248. Dengan bulla ini dimulailah langkah-langkah kecil menguratkan hati dan diri dalam sejarah. Kelompok tersebut memilih nama Ordo Sanctae Crucis Canonicorum Regularum Sub Regula S. Agustini, yang pada kemudian hari dipersingkat menjadi Ordo Sanctae Crucis, OSC, kelompok kanonik, pencinta liturgi, yang bersandar pada regula Santo Agustinus. Dengan membawa bekal pro negatio Crucis, berbakti demi kepentingan salib, OSC mulai melebar ke Perancis, Inggris, Skotlandia, Jerman, dan Belanda.





